JEJAK KANJENG JIMAT DAN MBAH...
18 Juni 2026
DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN
Kabupaten Sidoarjo
Cover : Soft Cover
halaman : x, 212 halaman
ukuran : 15 x 22 cm
Sidoarjo bukan sekadar sebuah wilayah yang tumbuh menjadi kota dan pusat pemerintahan. Di balik perkembangan itu, tersimpan jejak sejarah panjang tentang lahirnya kehidupan masyarakat yang dibangun melalui perpaduan kepemimpinan, nilai keagamaan, dan semangat kebersamaan. Sejarah Sidoarjo tidak dapat dilepaskan dari peran para pemimpin daerah dan ulama yang berjalan berdampingan dalam membangun masyarakat.
Di antara tokoh yang dikenal dalam perjalanan sejarah Sidoarjo adalah
Kanjeng Jimat dan Mbah Syamsudin. Kanjeng Jimat dikenang sebagai tokoh
pemerintahan yang memiliki peran penting dalam perkembangan awal Sidoarjo,
sedangkan Mbah Syamsudin dikenal sebagai ulama dan tokoh spiritual yang dekat
dengan masyarakat. Kedua tokoh ini hadir dalam ruang sejarah yang saling
melengkapi: umara yang memimpin pemerintahan dan ulama yang membimbing
kehidupan religius masyarakat.
Kolaborasi antara umara dan ulama tersebut menjadi fondasi penting dalam
membentuk wajah Sidoarjo tempo dulu. Dari semangat itulah lahir pusat-pusat
kehidupan masyarakat yang hingga kini masih menjadi bagian dari identitas
daerah. Masjid berdiri sebagai pusat ibadah dan pendidikan agama. Pendapa dan
alun-alun menjadi pusat pemerintahan sekaligus ruang rakyat untuk berkumpul dan
bermusyawarah. Sementara lembaga sosial seperti rumah sakit dan lembaga
pemasyarakatan berkembang sebagai bentuk pelayanan dan pembinaan masyarakat.
Jejak sejarah itu tidak hanya berupa bangunan tua atau cerita masa
lampau, tetapi juga warisan nilai tentang kepemimpinan, kebersamaan, gotong
royong, kepedulian sosial, dan kehidupan religius yang terus hidup dalam
masyarakat Sidoarjo hingga sekarang. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian
penting dari identitas masyarakat Kota Delta.
Buku ini disusun sebagai upaya sederhana untuk mengingat kembali
perjalanan sejarah lokal Sidoarjo, mengenalkan tokoh-tokoh yang memiliki peran
penting dalam perkembangan daerah, serta merawat ingatan kolektif masyarakat
terhadap warisan sejarah yang ada di sekitarnya. Melalui tulisan ini diharapkan
generasi muda tidak hanya mengenal nama-nama tokoh sejarah, tetapi juga
memahami nilai perjuangan, keteladanan, dan semangat membangun masyarakat yang
mereka wariskan.
Sejarah lokal bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin
perjalanan sebuah daerah dalam membangun jati dirinya. Dengan mengenal
sejarahnya, masyarakat akan lebih memahami akar budayanya, menghargai warisan
para pendahulu, serta memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan
nilai-nilai baik kepada generasi berikutnya.
Semoga buku ini dapat menjadi bagian kecil dari upaya merawat literasi
sejarah lokal Sidoarjo agar jejak perjuangan para tokoh, ulama, dan masyarakat
tempo dulu tetap dikenang sepanjang masa.